Indonesia, july 1989. hijab. brackets. physics engineer. Bandung Institute of Technology. Loves travelling. Fans of Kaka, bossanova-jazz artist, korea show. http://onevowel.posterous.com

 

Crescent-star-red flag over the strait. Bosphorus, Old-New Istanbul, 2011

Crescent-star-red flag over the strait. Bosphorus, Old-New Istanbul, 2011

Calligraphy-gate-flag. Topkapi Palace, Old Istanbul, 2011.

Calligraphy-gate-flag. Topkapi Palace, Old Istanbul, 2011.

(Vi)sit(or)s are kin(dly) requ(e)sted to stay behind t(he) line. -Blue Mosque

(Vi)sit(or)s are kin(dly) requ(e)sted to stay behind t(he) line. -Blue Mosque

Vacant seat. Who is worth for that? -Uludag.

Vacant seat. Who is worth for that? -Uludag.

It was church. It was also mosque. St.Sophia.

It was church. It was also mosque. St.Sophia.

Yang Sedang Ngetrend

Semua orang sibuk membicarakan Magnum. Saking sibuknya orang-orang, saya sampai tidak minat sama sekali untuk mencarinya. Kecuali, kalau tiba-tiba mau beli chiki, cheetos, roti tawar,atau apapun di supermarket atau ada mang-mang walls yang lewat trus teriak-teriak kalo dia jualan magnum. Baru deh saya mau beli. Nah, konon katanya di Bandung cuma ada sampai level Magnum Classic. Dan secara tidak sengaja, di Cevahir Mall, New Istanbul dijuallah MAGNUM GOLD dengan ukuran yang lebih besar dalam lemari pendingin dengan beragam jenis Magnum di dalamnya. Ada Magnum Mint, Magnum kayak Caramel, dan beberapa rasa Magnum yang lainnya. Sayangnya lagi musim dingin dan takut batuk dan meler-meler, kalau tidak, sudah tidak diragukan lagi satu batang MAGNUM GOLD,MINT,dll masuk kantong dengan segera. 

»Mohon maaf kalau ternyata di Indonesia ada Magnum Gold. Maklum, saya bukanlah pecinta Magnum… 

The Four Indonesia People I Met in Turkey

Dalam lawatan singkat ke Turki kemarin, secara tidak sengaja (random) bertemu 4 kelompok/orang Indonesia di tempat yang berbeda-beda. Rasanya menyenangkan sekali ketika bertemu mereka dan berbincang-bincang dalam Bahasa Indonesia di negeri dengan populasi hampir 99% berhidung mancung dan bertampang jauh di atas rata-rata tersebut. 

  1. Satu ayah, ibu, dan 2 orang anak perempuan -Farah dan Dea- dari Qatar. Satu travel di perjalanan menuju tempat ski di Uludag, Bursa. Mereka sudah 5 tahun tinggal di Qatar. Sang adik, Farah, sekolah setara SMA di Qatar sementara sang kakak, Dea, kembali ke tanah air untuk menuntut ilmu di Psikologi UI angkatan 2010. Katanya, populasi orang Indonesia di Qatar cukup banyak dan hampir sebagian besar bekerja di perusahaan perminyakan. Mereka juga memberikan 1 foto instax kami di Uludag. Thanks for the photo, girls!  
  2. Panorama travel. Kalau ini entah jumlahnya berapa puluh orang yang jelas cukup banyak. Yang kali ini tidak sempat berbincang-bincang sama sekali. Bertemu di Blue Mosque, lumayan curi-curi dengar penjelasan tentang sejarah masjid dari guide tour mereka. 
  3. Seorang pria asal Jakarta berusia 20-30 tahunan yang sayang sekali kami tidak sempat bertukar nama. Bertemu tengah malam di dinginnya kota Istanbul. Ternyata dia sedang transit sendirian di Istanbul selama 12 jam menuju Paris untuk bertemu temannya. 
  4. Seorang wanita asal Bandung, Seni Rupa ITB 2003. Yang kali ini memang tidak bertemu di Turkey, tapi di Doha saat transit menuju Jakarta. Dia bersama seorang anaknya berusia baru 4 bulan. Ternyata suaminya orang Italia dan dia lagi menempuh S-2 di Indonesia. Berkenalan dari chating kemudian menikah tanpa babibubebo. W O W! Tapi, konon katanya sih memang sedang trend anak SR menikah dengan orang bule. Kalo jodoh sih emang ga kemana ya….

Sebenarnya ada beberapa orang lainnya yang “dicurigai” orang Indonesia juga, tapi memang cukup jarang. Yang jelas, walaupun belum cukup tenar, Istanbul-Turkey adalah tempat yang sangat layak untuk menjadi tujuan wisata. 

*Cerita selanjutnya dan hal-hal menarik lainnya akan segera menyusul. Judul diambil dari judul novel ternama karangan Mitch Albom.